31 Desember 2008

Pak Th, Guru Ngaji-ku

Pak Th baru saja mendarat di Bandara Juanda dan keluar lewat pintu khusus tidak berbarengan dengan jama’ah haji lainnya untuk dijemput oleh sanak keluarganya. Tampak sangat lelah dan letih hingga ditandu di atas kursi roda. Perjalanan panjang sekitar hampir 10 jam bagi orang awam yang sudah udzur fisik dan psikologinya seperti pak Th (71) adalah hal yang luar biasa. Aneh bin ajaib, entah siapa yang mengomando, kendati lewat pintu khusus, tak ayal menjadi perhatian banyak orang yang sedang melakukan perjalanan melalui bandara ini. Bagaimana tidak, para penyambut, disamping kerabatnya, murid-murid ngajinya (saya tidak menyebut santrinya, karena beliau tidak punya pesantren), dan tetangga serta koleganya dimana beliau berinteraksi sosial kemasyarakatan, telah mengerumuni dan satu per satu mencium tangan beliau. Beliau pun membalas dengan tulus mencium satu per satu pipi mereka, tentu yang rojuulun (laki-laki).

Menangis, haru biru, gembira tumplek blek di ruang penjemputan. Riuh rendah suara orang di bandara tersirap berhenti total oleh kejadian di depan mata saya. Sempat terbengong-bengong orang China disamping saya, dan bertanya, “Ada apa pak?“ “Ooo... beliau adalah guru ngaji yang pulang haji”, jawab saya spontan. Saya jadi ingat, jangankan mencium tangan beliau, air yang tersisa di gelas, akan menjadi rebutan murid-murid beliau, disaat beliau selesai memberi bekal akhirat. Saya sendiri bingung, ada manfaat apa dibalik gelas itu, karena fisik saya yang kecil, berebut gelas tak pernah saya lakukan.

Ibadah haji adalah ibadah paling banyak menyita tenaga, waktu, pikiran dan biaya. Bagi orang Muslim yang “merasa” mampu (materi dan fisik) tak ada alasan untuk tidak berangkat haji. Kartodirjo dalam Zulkifli (2003) mencatat bahwa ibadah haji merupakan kekuatan sosial dari revitalisasi kehidupan keagamaan. Menurut saya, bila ada orang Muslim yang mampu, kemudian menonjolkan argumentasi alasan belum siap mental, ini adalah alasan yang dibuat-buat. Dalam hal ini syetan selalu menutup mata hatinya untuk “melihat” Mekkah sebagai pusat ritual ibadah haji. Van Bruinessen dalam Zulkifli (2003) melukiskan kalau dulu ibadah haji dilakukan bukan hanya untuk melengkapi Rukun Islam saja, akan tetapi dipakai untuk legitimasi politik agar memperoleh pengakuan atas kerajaan mereka, seperti yang dilakukan oleh Sultan-sultan Banten dan Mataram. Namun ada juga para pengasuh pesantren salafi (tradisional) kepergiannya ke Mekkah juga digunakan untuk menuntut ilmu, sebab Mekkah masih dipandang sebagai pusat ortodoksi Islam (Zulkifli, 2003). Mereka berguru kepada para syekh kelahiran Indonesia yang menetap (muqimin) di kota itu seperti Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh ‘Abd al-Kariim al-Bantani, Syekh Thalhah Cirebon, Syekh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura dan lain-lain.

Labih lanjut Zulkifli menulis:

“Beberapa orang muqimin menjadi ulama dan guru-guru terkemuka yang menjadi anggota tingkatan terpelajar di Mekkah dan Madinah.”

Oleh karenanya lamanya pergi haji hingga bertahun-tahun bukanlah hal yang aneh. Hadlratus syekh Hasyim Asy’ari, misalnya, berhaji dan menuntut ilmu lebih dari 7 tahun untuk yang pertama kalinya. Untuk sekedar membandingkan, padahal pak Th hanya 40 hari! Itupun luar biasa penyambutannya. Terlukis bagaimana kesehariannya, jumud, zuhud, kharisma dan sederhana, tetapi tidak mencari legitimasi dan tidak sedang menuntut ilmu, namun saya yakin banyak ilmu yang didapat beliau selama pergi haji.

Semasa kecil, ya seusia anak-anak SD saya mengaji dan mencari kebenaran hakiki, bukan pembenaran absurd, bersama teman-teman sebaya di tempat tinggal pak Th. Peluh keringat yang menetes di kening dan di sela-sela rambut dan leher, sebagai saksi mengkaji iman kepada Alloh dan menguji keimanan sebagai bekal kelak dikemudian hari. Pelajaran ke-esa-an Alloh (tauhid) ditanamkan sejak dini, dengan harapan mengakar di hati, mumpung hati belum terjejali oleh kemungkaran dunia. “Dengan tauhid yang benar, diharamkan seseorang masuk ke dalam neraka, camkan itu”, kata beliau. Paling tidak nanti setelah dewasa, bila ada ruang kosong, di hati juga di otak, tauhid mampu menjadi juru selamat bila terjadi benturan batin yang menjurus ke jalan syetan. Jangankan jalan yang terlihat oleh mata telanjang, syetan bisa masuk ke dalam aliran darah. Maka tauhid adalah benteng terakhir menghadang kemusyrikan.

Menata tauhid bukanlah hal gampang. Hakikat tauhid itu sebuah perjanjian antara manusia sebagai makhluk yang berotak serta berakal dengan Alloh sebagai Sang Khaliq. Kitab suci pun sudah mentitahkan hal ini (QS 7 (Al-A’raaf:172).

Nurcholish Madjid (2000) menulis:

“Manusia dalam suatu perjanjian primordial dengan Tuhan, yaitu bahwa manusia, sejak dari kehidupannya dalam alam ruhani, berjanji untuk mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai pusat orientasi hidupnya.”

Yang susah memang menakar tauhid itu sendiri. Nilainya pun bukan berupa angka riil. Tidak jelas, bahkan seorang Prof Yohanes Surya saja tak akan mampu, saya percaya itu. Barometernya tidak ceplas-ceplos misuh thok, bukan hanya jungkir-balik 17 kali dalam sehari semalam, juga bukan kuat menahan lapar 15 jam di siang bolong. Benang merahnya tipis banget, hampir tak terlihat. Contoh yang paling nyata, tanpa kita sadari, “.....hebat benar obat ini, ampuh, baru sekali telan, rasa pusing kepala saya langsung hilang.“ Adakah unsur Tuhannya ikut serta? Kita tanyakan kepada diri sendiri.

Ada rasa kebanggaan tersendiri bisa ngaji di rumah pak Th, sebab saat itu pak Th adalah sebuah icon, al-Qur’an dan “isinya”, sendi agama dan applikasinya. Saya sendiri heran, di surau-surau yang lain pada radius 500 meteran, juga ada seorang ustadz yang mengajar ngaji. Namun pak Th yang penuh kharismatik, sederhana, sangat tradisional punya kelebihan tersendiri untuk melemaskan lidah bagai-mana cara mengeluarkan harokat huruf-huruf Arab. Ini ada maksudnya, sebab satu huruf Arab mempunyai makna yang berbeda-beda tergantung nahwu dan shorofnya, apalagi diucapkan dengan harokat dan tajwid yang salah, pasti berbeda arti dan maknanya. Suatu malam beliau terbatuk-batuk tiada henti, ketika beliau sedang makan, ada murid ngaji yang salah mengucapkan kalimat dalam al-Qur’an. Membandingkan dengan diri saya saat ini, telinga saya tidaklah sepeka beliau.

Di rumah sederhana beralaskan tikar pandan, pelajaran beliau, kepada murid-murid yang menginjak remaja, berganti dengan tafsir al-Qur’an. Pada tahap awal, dimulai dengan Juz ’Amma (Juz 30) yang sebagian besar bercerita tentang hari qiyamat atau hari pembalasan. Ini pelajaran tauhid pertama. Kalau gunung-gunung bisa meletus mengeluarkan lahar panas, mustahil kalau tidak ada yang menggerakkan. Kalau air bah laut bisa menggulung tanah daratan, mustahil kalau tidak ada yang menumpahkan. Kalau lebah bisa menghasilkan madu sebagai obat yang banyak menyembuhkan berbagai penyakit, mustahil kalau tidak ada yang menyuntikkan cairan coklat manis itu ke dalam sistem kehidupan. Semua itu sebagian tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Dan, Jus ‘Amma komplit benar memberitakan ini. Tinggal kita punya niat dan kemauan mengkaji atau malah sebaliknya membaji.

Suatu ketika pelajaran tafsir sampai pada surat ke 103 (Al-Asri). Hampir setengah tahun pak Th (selalu) mengulang-ulang pelajaran ini. Memang yang dibaca surat ini-ini terus, tetapi setiap hari pemahaman, penjabaran, penjelasan, penafsirannya berbeda-beda sesuai dengan peristiwa terkini, namun tetap pada tataran dan pakem ilmu tafsir. Kadang tumbuh kejenuhan saya, namun bisikan ke telinga kanan “mungkin suatu hari nanti kamu akan tahu”, memaksa otak saya berfikir untuk bertahan. Satu demi satu murid pak Th meninggalkan majelis secara teratur. Menyaksikan muridnya tinggal sedikit, wajah pak Th melukiskan kesedihan, tetapi bukan kesedihan melankolis, maksud saya keprihatinan. Sebab, “Kedigdayaan Islam dibangun dengan kualitas, bukan kuantitas”, demikian pak Th berujar.

Lebih lanjut Nur Syam (2007) menulis:

“…. Dengan kualitas Islam harus menjadi simbol dalam segala hal. Tak terkecuali simbol negara. ….. Ajaran Islam sudah memberikan pedoman dalam segala hal. Islam mengandung ajaran syumuliyyah (komprehensif0 dan universal…. Adagium (pemurnian, pen) Islam itu mestinya minyak onta cap onta”.

Saya dan segelintir (kadang satu atau dua) murid tetap ngenger dan mencoba untuk sabar bertahan mendengarkan dan menyimak ilmu tafsir. Bagi saya yang bergelimang kebodohan, mendulang ilmu tafsir bagaikan menggali gunung yang punya kandungan emas, mungkin berton-ton tanah galian dipindahkan, hanya sejagung emas didapat, dan saya percaya esok pasti menuai hasilnya. Benar, setelah hampir 30 tahun saya baru tahu kalau sumpah Alloh dengan waktu atau massa, ternyata manusia itu selalu berbuat kerugian, keonaran, kebengisan, dan mendzolimi diri sendiri dan orang lain. Pada skala yang lebih besar, negara menzolimi negara lain, merebut hak dan menjungkirkan martabatnya.

Waktu atau massa menggambarkan betapa dekatnya hari ini dengan hari qiamat, seperti dekatnya waktu ‘Ashar menuju Maghrib. Kalau sudah begini kudu sadar, diciptakan menjadi laki-laki, ya jangan berakting sebagai banci bahkan wanita. Dikaruniai punya pohon mangga yang subur dan buahnya banyak menggelantung, ya jangan dibiarkan terlampau ke bawah sehingga mengganggu orang dan mobil lewat. Kalau kita sedang berjalan melihat kucing sedang minum atau ayam sedang mematuk gabah di pinggir jalan, ya kita lewat agak menjauh, supaya kenikmatan mereka tidak terganggu. Ketika kita melihat lingsang menyebrang jalan setapak, angkatlah dan pinggirkan ia, agar tidak terlindas ban sepeda kita, sehingga kelangsungan beranak-pinak masih langgeng. Kalau harga yang tertera di meter pompa bensin Rp. 129. 575, ya jangan berucap seratus tiga puluh ribu rupiah. Ini khan mendzolimi pembeli. Maka kalau kita sedang asik-asiknya menonton komedian laki-laki bergaya kewanita-wanitaan, seharusnya kita bersedih tidak terbahak-bahak, sebab tanda-tanda qiyamat sudah dekat salah satunya adalah laki-laki menyerupai wanita.

Begitu juga tafsir tentang sholat dari hasil penafsiran Surat 2 (Al-Baqarah):45 pak Th menjabarkan sebagai berikut, “Kalau kita punya masalah di dalam hidup dan atau kehidupan, ya adukan saja kepada Alloh, sebab Dia-lah yang menghidupi kita”. Salahnya sendiri kenapa Alloh menciptakan kita. Maka kalau kita sedang trouble, pasti Alloh punya manual booknya. Saya baru ngeh, analoginya, setiap hari berkutat-kutit dengan mesin hasil bikinan manusia cerdas, tak ada bedanya jika terjadi trouble, sang manusia sudah membuat manual book yang berisikan trouble shooting, bahkan mungkin sebelum ia diciptakan. Nah, tercetak di dalam “manual book” nya Alloh bahwa di saat trouble manusia hadir, shootingnya adalah sabar dan sholat. Sholat yang bagaimana? Ya, sholat yang bener-bener sholat. Sholat dengan pakaian yang suci. Sholat dengan wajah yang bersih. Sholat dengan hati yang jernih. Tentu ada syarat --- bersifat wajib yang tak boleh putus mulai awal hingga akhir --- dan rukun qouli (pengucapan oleh bibir) serta rukun fi’li (gerak tubuh). Kagak bisa berdiri, ya duduk. Kagak bisa duduk, ya berbaring, dengan isyarat hati. Kagak bisa dengan isyarat hati, ya di”sholat”i, beres.

Menurut K.H. A. Mustofa Bisri (2007) Mata Air dalam Membuka Pintu Langit, kalau kita tidak menangi Rasululloh sholat yang benar, ada warosatil anbiyaa’, ya ada Abu Bakar Shiddiq --- pribadi yang penuh kasih sayang, ya ada Umar bin Khattab --- seorang sangat sederhana dan demokrat sejati, ya ada Utsman bin Affan --- pribadi yang santun, dermawan dan dzun nur’ain, ya ada ‘Ali bin Abi Thalib --- babul ilmi yang zuhud dan berani, ya ada Thalhah bin ‘Ubaidillah sampai Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, ya ada khalifah Umar bin Abdil Azis sampai imam Hasan Bashri, ada imam Hanafi, Malik, Syafi’i dan Ahmad, ya ada Hasyim Asy’ari hingga Kiai Abdu Hamid Pasuruan. Lha kalau semua nama di atas saya tidak menangi, beruntunglah saya bisa menangi pak Th. Rosululloh pun bangga menyaksikan ummatnya sholat mengikuti cara seperti beliau sholat, tetapi beliau lebih bangga lagi kalau ternyata ada ummat beliau sholat tak sempat melihat cara beliau sholat. Tuturan beliau bukan tiada dasar, sebab, (Al-Khuly, 2007)

“Sholat telah dijadikan oleh Alloh sebagai yang terindah dalam pandangan mataku (sesuatu yang sangat kusenangi).” (HR Al-Nasa’i)

Juga berbicara tentang dunia pendidikan modern, mau tak mau konsep-konsep elementer kalkulus, integral, elektron, coulumb, volt, Hukum-hukum Ther-modinamika dan sebagainya menjadi serapan peserta didik (Schumacher, 1994). Lebih lanjut Schuma-cher menulis:

“Ilmu dan teknik menghasilkan know-how (ketrampilan teknis). Tetapi berdiri sendiri, know-how tidak berarti apa-apa, karena ia adalah cara tanpa tujuan, suatu kalimat yang tak lengkap.”

Oleh karenanya asupan lokal (informal) yang sedikit tetapi membawa dampak positif, seperti mengaji tidak saya tinggalkan sepenuhnya, karena saya yakin sumbangsih pak Th kendati kecil pasti buahnya besar dan manis. Bagi saya mengaji di tempat pak Th adalah pelengkap know-how, sebagaimana dibutuhkannya pecahan uang seratus dua ratus perak untuk pelengkap kembalian uang di pompa bahan bakar.

Waba’du. Kalau harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, Hadlratus syeikh K.H. Hasyim Asy’ari wafat meninggalkan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kelak pak Th mati mewariskan banyak muridnya bersyahadat, bertasbih, bertahmit, bertakbir kepada Alloh. Dan, yang paling membahagiakan banyak muridnya bertauhid. Andaikan di hari hisab nanti pak Th tertahan masuk syorga, karena beliau punya kesalahan dan dosa (misalnya), saya dan beberapa murid yang lain membela (kalau bisa) mati-matian, memprotes Malaikat Ridwan (Malaikat Penjaga Syorga) untuk segera membuka pintu syorga, karena beliau telah sungguh-sungguh mengajarkan bagaimana bentuk tauhid yang benar. Lengkap sudah “islam” pak Th, setelah berhaji. Dari pandangan saya, pak Th sudah pantas bergelar haji, dan …. Alloh mengabulkan do’a murid-muridnya. Bukankah Alloh hanya membutuhkan pengakuan dan persaksian “Alloh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)” (QS 2:255).

Wa Allohu a’lam.

Semoga.

Luthfie.-

1/2/2008

Sumber bacaan:

1. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Jakar-ta, 1971.

2. Al-Khuly, Syekh Hilmi, Sholat itu Sungguh Menakjubkan!, Mirqat Publishing, Jakarta, 2007.

3. Bisri, KH A Mustofa, Membuka Pintu Langit, Penerbit Kompas, Jakarta, 2007.

4. Madjid, Nurcholish, Masyarakat Religius – Menumbuhkan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat, paramadina, Jakarta, 2000.

5. Schumacher, E.F, Kecil Itu Indah, LP3ES, Jakarta, 1994.

6. Syam, Nur, NU Salafi di Era Reformasi, Suara Pembaruan, 31 Januari 2007.

7. Zulkifli, Sufi Jawa --- Relasi Tasawuf–Pesantren, Pustaka Sufi, Jogjakarta, 2003.