30 Agustus 2009

KIRI

Beberapa waktu yang lalu penulis berjumpa dengan teman lama ketika masa SMA. Lama sekali penulis berpisah, lebih 15 tahun. Seperti diatur oleh Yang Maha Kuasa, perjumpaan ini terjadi di depan Masjidil Haram, Mekkah, persis di depan hotel mewah Daarut Tauhid. Konon kabarnya hotel ini milik orang nomer 2 di negeri kaya minyak, keluarga Bin Laden, Keluarga ini juga sekarang sedang membangun hotel super mewah disebelahnya, yang akan rampung di tahun 2008. Di bawah hotel mewah ini ada supermarket Bin Dawood dan pertokoan yang menjual barang-barang mewah untuk ukuran rata-rata jama’ah Indonesia. Teman ini semasa sekolah sudah aktif di bidang keagamaan. Jaman sekarang tidak banyak “anak muda” menceburkan diri berenang di semak-semak ilmu agama (baca Islam). Dorongan kuat dari lingkungan yang semakin hari semakin lebar deviasinya tentang agama, menjadikan manusia seperti ini adalah hal yang langka. Maka dipandang aneh bila sebuah kehidupan bersandarkan agama, oleh sebagian anak gaul.

Saking asyiknya berbincang di pelataran hotel itu, sambil sarapan roti-susu, hingga bukan saja dien Allah dan paham syi’ah – suni yang jadi topiknya, akhirnya ngalor ngidul masalah negara, korupsi di DEPAG, besarnya BPIH sampai ke masalah Marxisme. Pada akhirnya sampailah pada sub topik “kanan-kiri”. Awalnya dikemukakan, bahwa di Saudi ini, sebuah kendaraan yang akan belok kanan tidak perlu menyalakan lampu sign kuning byar-pet byar pet, karena memang jalur legalnya berada di sebelah kanan. Tampak asing sekali, karena selama ini main set kita selalu di sebelah kiri. Lha kalau di negara kita yang semboyannya loh jinawi tata tentrem kerta raharja, justru lampu sign kiri yang sering dilupakan pengemudi. Maka jika diambil statistik, ternyata tidak banyak yang sudah “sadar lalu-lintas” atau ketika ada petugas saja pengemudi menyalakan lampu sign kiri kalau ingin belok kiri.

Tangan kiri agaknya menjadi anak tiri, atau sengaja ditirikan terhadap saudara kandungnya tangan kanan. Perlakuan ini menjadikan tangan kiri bersedih terus menerus. Untuk mengambil dan membersihkan kotoran najis ataupun thaharah, tangan kiri diperintahkan dengan sewenang-wenang. Yang demikian ini, tangan kiri tidak merasa mengeluh. Tangan kiri melakukannya dengan penuh tanggung-jawab. Tidaklah terbesit sedikitpun uneg-uneg untuk iri, dengki, ngedumel kepada tangan kanan. Hal yang paling penting, tangan kiri mampu menjadikan dirinya sendiri untuk “berfikir” positif, Sebaliknya, tangan kanan selalu diberikan tugas yang enak-enak, yang bagus-bagus. Apakah karena dalam sabdanya, untuk selalu “meng-kanan-kan” untuk hal-hal yang baik. Demikian pula anjuran orang bijak, gunakanlah tangan kanan untuk mengantarkan makanan/minuman ke dalam mulut. Budaya ke-Indonesia-an juga menuntut bahwa dengan menggunakan tangan kanan nilai-nilai kesopanan tersanjung tinggi. Apresiasi kepada tangan kiripun, tidak mengubah bahwa nantinya apa yang akan ditugaskan kepadanya menjadi ringan. Toh, jumlah “pemberi” apresiasi ini tidak banyak. Contoh apresiasi adalah menempatkan jam tangan, cicin, gelang di tangan kiri. Bahkan diawal-awal penulis masuk kota Cilegon ini, ada seorang ulama mengemukakan, pemakaian jam tangan di tangan kanan adalah hal yang haram. Wa Allahu ‘a’lam.

Hubungan Indonesia dan China (dulu disebur RRT = Republik Rakyat Tiongkok) membeku setelah peristiwa G30S/PKI meletus di tahun 1965. Poros Jakarta-Peking seakan-akan terputus total tak bisa disambungkan. Apa penyebabnya? Karena China adalah salah satu (anggota?) Kelompok atau Blok Negara Kiri. Negara kiri dalam pengertian ini adalah negara komunis. Masih segar dalam ingatan penulis, ketika penulis duduk di bangku SD, belum tahu arti harfiah apa itu kiri (baca komunis), suatu kali seorang guru berkata, kalau di dunia ini tidak ada komunis, maka penjajahan di negara-negara dunia ketiga masih akan terus berlanjut. Paham yang didengungkan adalah sama rasa sama rata. Exploitasi manusia oleh manusia di dunia ini harus dihapuskan. Artinya, Blok Kiri sangat berjasa menuntaskan kemerdekaan. Entah, terbentuknya Poros Jakarta-Peking-(bahkan Moskow), karena ada jasanya terhadap kemerdekaan kita, penulis tidak tahu. Blok Kiri ini berdiri kokoh, tak tergoyahkan. Maka ketika Blok Kiri menggunakan uranium untuk kemaslahatan ummat, tak ada yang berani mengusik. Blok kanan (baca Blok Barat) tak berani menggempur baik dengan kata-kata apalagi dengan menggunakan senjata. Bahwa Chernobil yang diarsiteki Rusia (dulu Uni Sovyet) sampai meledakpun, “Paman Sam” tak berani menegur. Rasanya kalau ingin aman, (mungkin) sebaiknya kita usulkan Iran masuk saja ke Blok Kiri.

Kazuo Shimogaki dalam disertasinya yang mengupas “pemikiran kiri” Hassan Hanafi, seorang doktor dari Sorbonne University (1966), bahwa kiri Marxis bertujuan memapankan suatu kumpulan (partai) yang berjuang melawan kolonialisme.dan telah menciptakan dampak-dampak tertentu, walaupun belum membuka peluang intelektual secara utuh. Lebih lanjut dikatakan, tugas kiri adalah mengatasi kecenderungan-kecenderungan itu dan merealisasikan tujuan-tujuan, termasuk revolusi nasional yang berbasis pada prinsip revolusi sosialisme melalui khazanah intelektual ummat.

Alkisah Kelompok Kiri di negara kita. Cap yang disandangnya adalah komunis tidak mengenal adanya Tuhan. Maka kalau the founding fathers menempatkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” di level yang paling atas, ini artinya segala gerak-gerik kita tak lepas dari selalu mengingat Tuhan, karena dengan mengingat Tuhan, ada kecenderungan untuk tentram. Lambat laun pada akhirnya paham kiri tak akan mendapat tempat di negeri kita tercinta. Satu cerita ketika penulis masih tinggal di Surabaya. Ada 2 terminal kendaraan yang tergolong besar, salah satunya adalah Terminal Jembatan Merah. Kehidupan di terminal ini sangatlah keras, dalam artian, untuk mendapatkan sesuap nasi, berbagai cara bisa ditempuh meski vevire veri coloco, berani menyerempet bahaya, termasuk menjadi pencopet sekalipun. Secepat kilat dompet seorang ibu muda telah berpindah tangan ke seseorang yang tak dikenalnya. Secara spontan ibu muda itu berteriak, “ … copet, copet, copet”. Teriakannya terhenti seketika tatkala si pencopet langsung mengacungkan sebilah pisau. Entah terinisiasi oleh siapa, seorang tukang becak berteriak juga. Namun kali ini teriakannya bernada sumbang. “PKI, PKI, PKI.” Mendadak sontak si pencopet berhenti berlari untuk kemudian bersujud di depan tukang becak seraya berkata dengan lirih, “… pak saya asli bukan PKI, saya memang pencopetnya, tolong bawa saya ke Hoe Biro”, dengan logat Maduranya yang sangat totok. Yang dimaksud Hoe Biro adalah markas POLWILTABES Surabaya, yang memang tidak jauh dari terminal. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa copet di terminal itu? Ternyata “jabatan” sebagai pencopet masih lebih terhormat daripada dituduh seorang (aktivis) PKI, komunis, atau kiri.

Ternyata fenomena kiri memang aneh. Wa Allhu ‘a’lam.

Luthfie

Ayo Memberi Hutangan

Betapa riangnya hati ini berangkat kerja. Saya merasakan pagi itu, keriangannya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sejenak, setelah sholat shubuh, biasa saya buka-buka buku, atau menulis opini, melatih jari-jari untuk bercerita. Apalagi di bulan Oktober hingga perteng han Desember manjing shubuh pukul 04:09 – 04:13 WIB. Jadi, selesai menunaikan kewajiban, masih tersisa banyak kesempatan. Saya men-dawam-kan berangkat lebih awal dari jam kerja. Misalnya, tiba di tempat kerja satu jam sampai setengah jam lebih awal. Banyak cara untuk mewujudkan niatan ini, naik bis jemputan shift yang memang berangkat lebih awal atau ekstrimnya bawa sepeda motor yang bisa dipacu kencang mumpung jalanan masih sepi pembalap liar.

Nah, seperti biasa, 1 km dari rumah saya ke jalan raya, saya isi dengan olah raga jalan sehat sekitar 11 menit. Lumayan. Ukuran porsi olah raga sih kurang, tapi daripada tidak sama sekali, kata “lumayan” menjadi sangat cocok. Baru beberapa langkah, sahabat saya memanggil untuk diajak bareng dengan mobilnya. Ada keuntungan sekaligus kerugian. Untung, karena bisa menghemat tenaga untuk sampai ke jalan raya plus kenyamanan mobil dengan tingkat vibrasi rendah. Plus, tidak ikut tegang mengendalikan mobil. Plus, nyampe pabrik masih pagi. Rugi, karena jatah jalan kakinya tidak ada. Sedikitpun, tak tergambar sama sekali di dalam benak saya, bakal ada apa sahabat saya mengajak bareng ini.

Tiba-tiba sahabat saya ini melontarkan pertanyaan, “kalau sampeyan memberi pinjaman (baca, utangan) kepada orang yang dikenal, atau bahkan tidak sampeyan kenal sama sekali, bagaimana sikap sampeyan.”

Susah saya menjawabnya. Ada rasa ketakutan untuk berpendapat. Namun, untuk mengusir ketidak-pastian jawaban, saya balik bertanya, “lha sampeyan sendiri bagaimana, terutama mengharapkan pelunasan atau kembalian dari si terhutang.....”

“Iya dong, so pasti, nyarinya aja susah,” jawabnya mantab. Saya tak berani merusak tatanan jawaban yang mantab itu. Akhirnya, tak ada kalimat yang lahir dari mulut saya, akibat ketidak-mampuan saya. Lantas saya mencari rujukan, bahasa kerennya literatur tentang hutang atau utang.

******

Tak ada yang tak tahu definisi hutang (=utang). Yang jelas dari produk hutang lahirlah apa yang disebut dengan debitur dan kreditur. Hubungan antara debitur dan kreditur, menandai peraban manusia semakin maju. Berbagai lembaga keuangan bank maupun non bank berlomba-lomba menarik simpati manusia beradab. Ada yang tak tergiur sehingga cara berakal tradisional tetap merupakan primadona. Namun, tak sedikit yang kepincut hingga menelorkan kesengsaraan fisik sekaligus rohani. Bagi yang tahan banting, hutang adalah cara cepat saji membangun kebudayaan (berperikamanusiaan).

Dihampir semua situs di internet, dihidang-kan trik, tips, cara-cara memasak hutang agar bisa disantap dalam keadaan sengsara atau senang. Termasuk di dalamnya doa-doa menghindari hutang. Ada pula yang menyuguhkan pendekatan praktis menghindari pemborosan. Tak kalah menariknya lagi, kiat bijak berhutang. Yang saya herankan, kok tidak satupun ada yang menulis tentang, misalnya, bijaksana memberi hutangan. Atau, tiga cara, atau sepuuh atau seratus cara jitu memberi hutangan. Kalaupun ada, bisa dipastikan direply, dimaki-maki habis tanda ketidak-sinkronan Juga bisa dipastikan penulisnya tidak waras. Lha wong kita serba kekurangan, kok malah ada tips cara-cara memberi hutangan. Apa nggak terbalik dunia ini....?

Ada pula artikel,... senangnya,.....bebas dari hutang. Berarti, selama berhutang, manusia waras ini hidup berjaket kesengsaraan. Atau, manusia berbudaya luhur ini, hidup berselimutkan hutang. Wallahu ’a’lam. Disadari atau tidak, kita ini sebenar-nya serba kekurangan, ya kurang sopan terhadap sesama rekan kerja, ya kurang berilmu tapi berani mendebat, ya kurang moral hingga selalu mendzolimi istri, anak-anak, tetangga, kawan bekerja, atasan, dan lebih besar lagi perusahaan bilamana anda bekerja di perusahaan. Ada kalanya ketika diri saya dilanda kekurangan yang hebat, bertalu-talu, merengek-rengek, mendayu-dayu, saya mengadu kepada Allah. Kalau perlu dibela-bela-in tidak tidur malam bermalam-malam. Dalam konteks ini (seakan-akan) Allah saya persalahkan karena banyak menangguhkan permintaan saya. (Apa inikah dengan kenakalan saya, mudah mendefinisikan Allah berhutang kepada saya dengan banyak menang-guhkan permintaan paksa saya).

******

Panggilan adzan itu memenuhi di sudut-sudut lekukan telinga kanan-kiri saya. Tak ada ruang kosong tersisa. Bahkan udara yang menempelpun terdesak oleh molekul-molekul panggilan adzan itu. Seperti halnya sebuah botol kosong yang jatuh ke kolam, gelembung-gelembung udara menguap digantikan oleh sebuah senyawa liquid yang memenuhi. Molekul-molekul panggilan adzan itu bertambah lama bertambah mengeras, akibatnya serasa memekakkan kendang telinga. Maka, ketika saya tidak dengan segera menuju masjid, ruang hampa kemasjidan saya masih terisi oleh dunia kreatifitas kerja yang penuh dengan tipu-tipu.

Ngobrol dengan kawan, ngrokok berbatang-batang, thenguk-thenguk nyantai, di depan komputer sok sibuk atau ngorok dibangku panjang, berarti saya sengaja mencoba memperluas permukaan telinga saya, agar dengan demikian molekul-molekul panggilan adzan kewalahan memenuhi ruang hampa.

Sebenarnya secara tidak langsung, disadari atau tidak, Allah selalu mengajarkan kepada saya untuk selalu memberi hutangan atau pinjaman dengan banyak mengabulkan permohonan hutang saya. Mustinya saya (dan anda, mungkinkah?) ringan hati untuk selalu memberi hutangan tanpa harus mengharap pengembalian (mungkinkah?). Maka sebenarnya kalau saya harus berlambat-lambat menunaikan sholat, tak segera bayar zakat, terlambat atau cenderung membiarkan bekicot menyebrang jalan aspal rusak selebar 1.5 meter, sehingga bekicot itu tergilas oleh sepeda motor, ........maka sebenarnya Allah dengan ringannya memberi hutangan kepada saya untuk menunda proses berbutat baik. Ini juga berarti saya telah berhutang, berhutang dan berhutang banyak kepada Yang Maha Pemberi Hidup.

Bekicot itu punya hak yang sama, hak azazi yang paling dasar, yaitu hak untuk hidup layak. Pembiaran saya adalah perwujudan tumor kebi-adaban telah melekat pekat di jiwa dan otak saya. Hidup dan kehidupan bekicot itu berhenti di roda sepeda motor, karena saya terlambat bayar hutang kebaikan untuk menyingkirkan dari mara bahaya. Begitu mudahnya saya melakukan proses hutang itu.

Kita bisa bebas men-utilize oksigen untuk suplemen otak, sebenarnya ini berarti kita berhutang tak terhingga kepada Sang Maha Pemurah. Dia tidak pernah menuntut pembayaran kembali. Sekali lagi, Dia selalu ikhlas kepada piutangNya, kendati sampai akhir hayat tidak membayar hutang. Bisakah kita berlaku demikian. Maka, saya niat berkampanye, ayo kita ramai-rami memberi hutangan. Bagaimana pendapat anda?...

Luthfie.-

15/12/2008

Dari berbagai sumber.

Tumirah Yang Tangguh

Belum pernah saya menitikkan air mata ketika pembaca sebuah biografi yang menyentuh kalbu sekalipun. Bahkan sempat sesenggukan untuk beberapa saat. Namun ini sangat berbeda. Betulbetul

sebuah pelajaran yang langka. Sebuah pelajaran hidup yang baru saja saya temui di sebuah majalah tidak populer di mata kebanyakan orang pehobby baca. Sederhana sekali tampilan majalah itu, yang saya beli terselip hampir tak terlihat di tumpakan majalah modern dengan gambar-gambar yang menawan calon pembeli dan pembaca. Tak ada tulisan di halaman muka yang membuat orang jadi tergiur untuk membeli. Apalagi stan/kios itu yang berdiri di atas parit besar berair hitam yang mampet serta menyisakan bau tak sedap, sangat tidak menarik pembeli. Majalah yang dijual memang beragam, penuh sentuhan artistik ke-majalah-an.

Ia adalah majalah Tarbawi, saya yakin tak banyak orang yang tertarik, harganyapun sangat murah, cuma Rp. 8.000,- Adalah Tumirah yang menghanyutkan hati, memberi pelajaran hidup dan mengantarkan jiwa saya menjadi sehat. Biografi Tumirah telah mengajarkan inti kehidupan yang benar bagaimana mengarungi hidup ini. Tak mengenal arti putus asa dalam hidupnya kendati ia sedang mengidap penyakit kanker sumsum tulang belakang (bone marrow cancer). Di awal penuturannya, tak ada yang menarik, biasa-biasa saja, karena dari kebanyakan rakyat miskin, problematikanya ya seputar lingkaran kemiskinan. Cobalah kita tela’ah satu per satu buah bibirnya yang manis.

Ketika saya masih bersekolah di tingkat dasar, departemen yang membidangi pendidikan di negara kita, bernama Departemen Pendidikan dan Pengajaran. Setelah saya amati, ternyata anak-anak kita tak pernah mendapatkan pengajaran yang benar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, Jakarta, 2005, hal. 17) pengajaran yaitu proses, cara, perbu-atan mengajar atau mengajarkan. Ia berarti pula perihal sesuatu atau segala sesuatu mengenai mengajar. Ia juga bermakna peringatan memperbaiki kesulitan belajar yang dialami murid. Sedangkan mengajarkan berarti memberi contoh nyata kepada anak-anak kita, seperti bagaimana sopan kepada yang lebih muda sekaligus santun berhadapan dengan orang yang lebih tua. Mengajarkan berarti upaya memberikan pelajaran kepada (anak didik, pen).

Napitupulu (2008) menambahkan peran khusus bagi guru diarahkan untuk dapat memanusiakan anak-anak didik. Untuk itu dibutuhkan komitmen pengajaran yang kuat sejak belajar di perguruan tinggi hingga pendidikan selama menjadi guru. Ini artinya, Napitupulu menulis:

“...pengajaran yang diberikan oleh guru seharusnya didasarkan pada paradigma untuk bisa memahami siswa....”

Dengan demikian pengajaran selalu bermuara positif bagi anak didik, yaitu memberi sebuah pemahaman (etika) yang kuat. Sangat disayangkan ternyata pengajaran (kehidupan) saat ini dibebankan kepada orang tua, sehingga (saat ini) pihak sekolah hanya mendidik siswa pada hal-hal yang bersifat edukasi, ya matematika, ya fisika, atau ilmu-ilmu sosial lainnya. Bagi pendidik, mendidik siswa tak punya beban psikologis tentang keberhasilan siswa. Sungguh berat tugas orang tua, dua peranan mendidik dan mengajarkan (sesuatu yang baik) kepada anak adalah harga mati. Orang tua Tumirah akan menjadi pahlawan dikenang sepanjang masa yang berhasil mendidik sekaligus mengajarkan anakanaknya tidak hanya berhasil dalam edukasi juga sukses sempurna survive di tengah belantara kehidupan.

Saya sendiri sangat sulit mendefiniskan dengan benar arti mencari rizki yang halal. Sebab dalam hal ini saya tidak sanggup mendeklarasikan bahwa apa yang selama ini saya lakukan sudah dikategorikan halal menurut syariat Islam. Dari Bahasa Arab halal (halla, yahillu, hillan) = embebaskan, melepaskan, memecahkan membubarkan dan membolehkan segala sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak dihukum jika menggunakannya (Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta, 2006, hal. 505). Lebih lanjut dikatakan, halal adalah menyangkut kebolehan menggunakan benda-benda atau apa saja yang dibutuhkan untuk memenuhi keperluan fisik, termasuk di dalamnya makanan, minuman dan obat-obatan.

Orang tua Tumirah mampu “membaca” hukum agama dengan benar dan sekaligus dijadikan selimut kehidupan. Bagi mereka, dalam segala hal, kata halal ditempatkan sebagai tameng kehidupan, tak terkecuali bekerja. Kini dan “nanti”. Demikian halnya Soenardi (2006, hal. 52) menulis yang mengutip Kitab al-Ittihat, 5/414 dari riwayat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

“Siapa mencari dunia secara halal, membanting tulang demi keluarga dan cinta tetangga, maka pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya dengan berbinar layak rembulan bulan purnama”

Nah, kalau di sekitar tempat kerja kita, ada satu – dua orang yang sangat santainya menghadapi pekerjaan dan/atau bahkan tanpa target harian, apakah ini masuk golongan halal? Masih mending bisa menyelesaikannya kendati molor lewat batas target, yang penting masih bisa kesampaian. Tentu atasan kita pun tahu place and size kita bekerja. Mustahil diberikan target yang sangat tinggi lagi ideal, kalau ternyata kemampuan pekerja juga terbatas. Lha kalau ternyata hanya D3 (duduk, diam

diakhir bulan tetap mendapatkan duit), tak punya inisiatif untuk memulai bekerja sebagai mana layaknya masyarakat pekerja, yang demikian ini tergolong apa? Halalkah menerima yang tidak semestinya?

Saya pernah membaca petuah sang Utusan, demikian, “...bayarlah upah pekerja itu, sebelum keringatnya kering”. Lantas bila di sekitar kita ada pekerja yang tidak “berkeringat” otak dan fisiknya, kasarnya D3, menurut hemat saya, ini tidak bisa digolongkan sebagai halal(an) toyyiban. Bahkan lebih kejam lagi, haram, karena ia tidak mampu menunjukkan hal yang adil. Jelas, sikap itu berlawanan dengan keseluruhan ajaran Islam sebagai agama terakhir bagi manusia (Wahid, 2006, hal. 171). Wahid meneruskan:

“Maka, kalau kita sudah berpredikat orang tua, kita didik dan ajarkan untuk menggapai yang halal sebagai kata kunci”.

Pada akhir segalanya, yang dihalalkan Alloh swt adalah bermanfaat bagi manusia, baik fisik maupun mental.

Bagi keluarga Tumirah kemiskinan bukanlah sebuah aib turun temurun. Kalau kini keluarga Tumirah sedang mengarungi hidup dalam kemiskinan, ia bukanlah bagian dari ketidakadilan Tuhan, sebab ia, menurut Karman (2008), bukanlah orang yang tetap dalam ketergantungan dan ia masih layak punya akses memperoleh kebutuhan. Lebih lanjut Karman menulis:

“Martabat orang miskin terjaga ketika mereka menjadi tuan atas nasib sendiri”.

Untuk sebuah martabat, orang-tua Tumirah memberi contoh garis keturunannya untuk memfasilitasi dirinya dengan ketrampilan, minimal untuk hidup mandiri. Bukan sebuah cita-cita kalau ternyata kehidupan yang ia alami sekarang ini menjadi miskin. Warga di sekitar lumpur raksasa Lapindo pun secara mendadak menjadi miskin. Bukan ketrampilan yang mereka miliki belum siap pakai, tapi lahan ketrampilan termasuk kumpulan ide-ide di otak mendadak lenyap ditelan bumi.

Dari penuturan Tumirah, ia dan keluarganya “terstruktur” sebagai keluarga miskin. Namun ak ada kamus “mengeluh atau menyerah” dalam hidupnya. Apalagi pasrah dengan meminta-minta. Di dalam Islam sikap meminta-minta sangat ditentang. Simaklah penuturan Soenardi (2006, hal. 52) selanjutnya, mengutip dari Musnad Ahmad, 2/418, Majma’ al-Zawa’id, 3/95, Jabir bin Abdullah meriwayatkan Rasulullah bersabda:

“Siapa yang membuka pintu meminta-minta, maka Allah pasti akan membuka pintu kefakiran. Sedangkan siapa yang ber-iffah, Allah akan menjaganya. Siapa yang mohon kecukupan kepada Allah, dia akan dicukupkan. Seseorang yang membawa tali ke lembah untuk mencari kayu, kemudian membawanya ke pasar untuk dibelikan satu mud kurma, lebih baik baginya daripada memintaminta, baik diberi atau tidak”.

Hidup Tumirah bukan di tangan seorang dokter. Dari kacamata medis, ia divonis tidak mampu bertahan dalam kondisi ini selama 3 (tiga) bulan. Bila ia mengingat angka itu, hati dan perasaannya bagai tersayat pisau tajam. Bukan karena ia akan menghadap Yang Maha Hidup, tapi ia merasa belum banyak “berbuat” untukNYA. Tabah dan sabar, ia

genggam dengan mengejawantahkannya ke dalam ibadah, bekerja dengan ibadah. Dan,.... ia mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat kurang mampu dengan menjadi “juragan” pengumpul kertaskertas bekas. Tumirah telah ber-iffah (menjaga kehormatan diri) dengan sempurna. Keberuntungan masih berpihak kepada Tumirah dan (tentu) keluarganya Ketegaran Tumirah membimbing rohani dan pikiran saya untuk dapat mengoreksi diri. Kenapa saya yang sempurna ini tidak bisa bersyukur dan berpikir dengan jernih bila menemui suatu masalah atau ujian. Sering telat meng-alokasi-kan 2,5% yang bukan hak saya. Semoga Alloh berkenan menebarkan lebih banyak lagi Tumirah-Tumirah yang lain.

Wa Allohu a’lam.

Semoga.

Luthfie.-

18/06/2008

Sumber bacaan:

1. Perjalanan Tumirah Menghadapi Ancaman Kanker Sumsum Tulang Belakang – Dokter Mengatakan September Nanti “Penentuan” Mampukah Saya Bertahan, Tarbawi, Jakarta, Edisi 180 Th. 9 Jumadats Tsaniyah 1429H – 5 Juni 2008M.

2. Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2005, Edisi Ke 3.

3. Haroen, Arifin, dkk, Ensiklopedi Hukum Islam, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2006, Cetakan Ke 7.

4. Wahid, Abdurrahman, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Jakarta, 2006, Cetakan Ke 2.

5. Napitupulu, Ester Lince, Arah Baru Pendidikan, Kompas Senin, 9 Juni 2008.

6. Karman, Yonky, Politik K(P)emiskinan?, Kompas Senin, 9 Juni 2008.

7. Soenardi, Sabrur R, Giat Bekerja, dalam, Seratus Cerita Tentang Akhlak, Jakarta, 2006, Cetakan Pertama.

Membunuh Dengan Cinta dan Kasih Sayang


Dua jarum jam saya masih menunjuk angka 14:20 ketika saya (bersama keluarga) memutuskan istirahat di daerah Tapos Bogor di sebuah rumah makan lesehan pak Umar. Tentu saja istirahat ini adalah melepas penat sembari program makan siang. Program sholat? Ya, sembari menunggu hidangan disajikan, kami semua melaksanakan ibadah sholat Dhuhur (dan ‘Ashar sekaligus). Kebanyakan dari kita, melakukan sholat, hanya untuk menggugurkan sebuah kewajiban yang dibebankan kepada kita, sehingga time setting-nya sengaja ataupun tidak sengaja, sedapat mungkin dibuat pendek. Selesai sholat, makanan sudah terhidangkan, tapi ketidak-beruntungan menimpa saya, selera makan saya hilang, tidak menggebu-gebu seperti pada saat ketika memasuki pelataran parkir dan mendadak perut jadi kembung. Kenyangkah saya? Ternyata tidak juga, bahkan keinginan minumpun tidak ada.

Belum berakhir cerita ini, begitu pesanan makanan sudah terhidangkan di ambén (sejenis dipan yang terbuat dari bambu), datang pulalah berbondong-bondong melihat dan mencium aroma makanan lezat makhluk Alloh yang lain yang bernama lalat. Pertama hanya satu dua ekor lalat yang datang, beberapa menit kemudian bertambah banyak, entah belasan atau bahkan sudah puluhan jumlahnya. Saya tidak merasa dan tidak pernah mengundang lalat-lalat itu untuk ikut serta mencicipi makanan yang saya pesan. Sebelum makanan datang disajikan, tak ada satupun lalat yang berseliweran di depan saya dan keluarga. Sangat aneh, mereka seakan-akan mengetahui dimana ada makanan lezat atau yang sangat tidak lezat sekalipun. Obat nyamuk dan lilin dinyalakan untuk mengusirnya. Dasar lalat, akal dan pikirannya terbatas, obat nyamuk dan lilin bukan halangan untuk tetap menyerbu makanan. Berbagai maneuver dikerahkan dan menghunjam dengan kecepatan supersonic hanya untuk mendapatkan setitik makanan. Tujuan utamanya sama dengan saya, mengisi perutnya untuk metabolisme tubuh tetap sehat. Sesama makhluk Alloh saling berebut cinta dan kasihNya.

*****

Lalat, nyamuk, kecoa, kalajengking, kelabang, orong-orong, sogo’ tele’ (bentuknya seperti ular anakan sebesar sapu lidi, tapi gerakannya sangat lincah). Naluri kita tergerak untuk membunuh mereka karena akal pikiran kita berproses bahwa binatang ini dan segerombolan sejenisnya akan mengganggu kenyamanan kita. Begitu makanan datang, lalatpun juga datang, karena yang terbayang di otak kita adalah lalat juga hinggap di tempat-tempat cemar, makanan-makanan busuk, (ma’af) tai anjing, manusia dan lain sebagainya, sehingga secara spontan naluri kita sedapat mungkin ingin membunuhnya.

Ketika kita santai di beranda rumah, di dalam rumah atau di ruang tamu sekalipun, pada musim apa saja, bahkan di siang bolong ketika kita berhenti sejenak di tengah-tengah hutan yang lembab, nyamuk mengganggu menggigit kita seenaknya. Kebutuhannya sama, keberlangsungan hidup. Dia tak pernah berfikir bahwa gigitannya men-jeram gatal beberapa waktu lamanya. Apalagi yang namanya nyamuk “marinir”, bercorak warna hitam-putih seperti baju loreng marinir. Lebih celakanya lagi, dia mengejar kemanapun kita beranjak pergi. Diapun tak pernah berfikir, akibat dari gigitannya, timbul kemarahan manusia terhadapnya, sehingga lahirlah kejengkelan dan nafsu yang membara untuk membunuhnya. Dia juga tak pernah berfikir, risiko yang paling berat adalah fatality. Bagi dia mati adalah tujuan akhir bak kamikaze, mati secara terhormat.

Lebih tidak beruntung lagi, dengan santainya sambil mengendus-endus apa saja yang dilihat kemudian didekati dan ketika dekat dengan manusia, kecoa tak menyadari nyawanya terancam melayang. “Plak!!!”, suara sandal terayun oleh tenaga besar seorang manusia. Bahkan, tak terbayang dalam benaknya, manusia bengis itu dengan sandal di kaki masih menginjak sekaligus melumatkannya hingga hancur cur. Duh, malang benar nasibmu, kecoa. Begitupun dengan nasib kalajengking, kelabang orong-orong dan teman-temannya. Hidupnya untuk setor nyawa dengan sia-sia. Kalau boleh mengadu kepada Yang Maha Pencipta, “janganlah aku dilahirkan ke dunia, jikalau pada akhirnya aku harus mati sia-sia di tangan algojo bernama manusia.” Bagi mereka melihat manusia, seakan-akan menghadapi “malaikat pencabut nyawa.” Pertanyaannya, apakah kita sebagai manusia sudah mendapat sertifikat pencabut nyawa untuk binatang-binatang itu? Kalau jawabannya tidak, alangkah kejamnya kita sebagai manusia.

******

Head lines berita di beberapa media cetak dan ulasan-ulasan di media elektronik, menampilkan beberapa prajurit tangguh namun lemah-lembut di negeri ini mendadak-sontak menjadi beringas, membabi-buta, menghajar dan memuntahkan peluru beneran kearah penduduk tak bersenjata. Seorang ibu hamil, di Pasuruan, tergeletak setelah kepalanya didor oleh sang algojo. Ibu yang lain lari menggendong bocah tertembus peluruh dan peluru itupun begitu ganasnya menembus pula dada sang bocah, ibunya menggelepar meradang kesakitan dan akhirnya nyawanya tak tertolong. Beruntung sang bocah terselamatkan, dan … kiranya meninggalkan trauma yang mendalam. Seragam loreng dan sepatu lars juga menghajar yang lainnya, hingga 2 (dua) nyawa melayang lagi. Kalau peluru beneran itu mampu menembus dinding bata setebal 20-an senti, tak ada kata sulit untuk menembus dada manusia. Drama pelor, cermin konspirasi politik dan ekonomi yang kuat dengan menindas kemanusiaan (Johan Silas, 2007). Lebih lanjut dikatakan, semua orang dibekali otak, namun tidak semua berpikiran waras, manusiawi dan alami. Cara berpikir waras tidak tergantung restu atau persetujuan atasan, tetapi mampu mengandalkan pengetahuan, pengalaman dan standard moral yang tinggi.

Lalat-lalat itu sudah semakin menjengkelkan. Dengan obat nyamuk tak mempan. Lilin dibakar, tak mengcover seluruh hidangan yang ada. Naluri sebagai “malaikat pencabut nyawa” muncul secara tiba-tiba. Marah, dendam kesumat berkecamuk menjadi satu. Kertas koran dipilin agak besar, dipegang kuat-kuat, tebas sana tebas sini. “Pyang!” Lalat tak kena, dia terbang dengan lincahnya mempermainkan anak manusia yang berusaha membunuhnya, 1 (satu) gelas jus jeruk terguling tanpa bisa diselamatkan. Rupiah melayang sia-sia! Tentu lalat-lalat itu juga menahan perutnya dengan lapar yang bukan main. Begitu mendarat di bibir mangkuk sayur asem, “pek!”, tapi lalat itu lebih cepat seper sekian detik take off, sayur asem teraduk oleh koran, akhirnya nêg, nggak tega memakannya. Rupiah melayang sia-sia! Melihat temannya diserbu dibombardir habis-habisan, lalat-lalat yang lain spontanitas solider, menyerbu makanan yang lain. Hinggap di piring berisi nasi yang sedang dinikmati oleh salah satu keluarga. “Pek!” Gerakan lincah lalat mampu membuat kecewa sang algojo. Nasi beserta accesoriesnya muncrat ke wajah pemilik piring-makanan itu. Beruntung pemilik makanan itu masih mau melanjutkan makannya, namun tak sedikit yang tumpah berantakan. Ada nasi, ada sayuran, ada sedikit sambal trasi tercecer di ambén. Lalat yang lainnya dengan santai mendarat pelan di atas nasi tumpahan di ambén. Geram bercampur marah, sang algojo tak menyia-nyiakan kesempatan ini. “Plak!” Sakaratul maut sejenak, mungkin bertasbih, dan tak lama lagi dia menemui Tuhan Sang Khaliqnya.

******

In The Line Of Fire. Film lama diputar ulang di “Bioskop Tran-TV” yang menceritakan tentang 2 (dua) manusia yang berdiri pada 2 (dua) sisi yang berbeda, walaupun satu sama lain sudah saling kenal. Tujuan akhirnya adalah sama, seorang presiden. Sisi “putih” si Frank (Clint Eastwood) berpembawaan tenang, penuh dengan pertimbangan matang dan mampu mengendalikan emosinya. Mungkin karena memang sudah tua dan tentu saja sudah banyak mengecap “asinnya garam dan manisnya gula” pada profesinya sebagai penyidik FBI, sehingga walaupun dia jadi bawahan seorang yang masih muda, tak terbesit dia membusungkan dada karena pengalamannya. Tidak sempurna banget, kadang juga analisa perhitungannya salah, namun demikian, dia mengevaluasi kesalahan dengan cermat, tanpa mengeluhkannya. Sudah barang tentu, atasan dan rekan kerjanya mencemooh habis-habisan, ketika dia melakukan kesalahan. Sebegitu kejamnya, dia tak melakukan pembalasan, tetap tenang walaupun dihujani kemarahan dari atasannya. Karena kematangannya inilah, “tabungan” bagaimana mengendalikan emosinya semakin menumpuk. Sebagai anggota Secret Service, dia wajib menyelamatkan presiden, kapan dan dimanapun berada.

Dari sisi “hitam” si Leary berwatak sebaliknya, dingin, tak banyak cakap, bahkan setiap pertanyaan yang mengganggu “pikirannya”, dijawabnya dengan dentingan pistol hasil ciptaannya sendiri yang super canggih dan sangat ringan karena bukan logam. Entah apa yang menyelimuti otaknya, si Leary begitu menggebu-gebu ingin menghabisi nyawa sang presiden. Layaknya seorang penjahat ulung, trik mengganti identitas, baik nama maupun fisik, dilakukan dengan sangat hati-hati. Singkat cerita, ketika pada kesempatan pertama mereka bertemu, terjadilah adegan kejar-kejaran di atas atap gedung, lompat sana lompat sini. Sampai pada suatu titik, lompatan si Frank tak sampai, sehingga hanya tangannya saja yang menyentuh bibir gedung. Dalam keadaan super payah, dengan jantan, si Leary mengulurkan tangannya untuk membantu si Frank.

Sampailah pada detik-detik film yang sangat menegangkan dimana sang presiden berpidato pada jamuan makan untuk kelas elite VVIP. Setiap undangan yang datang, harus melewati security pass, dengan harapan tak ada satupun tamu undangan yang lolos dengan membawa senpi, kecuali si Leary yang membawa pistol khusus bukan logam. Pistol dirangkai di bawah meja makan, tanpa menimbulkan kecurigaan kanan-kiri, siap dibidikkan ke arah sang presiden. Malang, datanglah si Frank sang pahlawan --- padahal dia “dibuang” atasannya di tempat nun jauh disana --- dengan alasan keamanan, memeriksa dan menganalisa daftar tamu undangan satu per satu. Tersebutlah nama Mr. Carsney di meja nomer 4. Dengan cekatan si Frank melompat menghalangi dan menutup ruang tembak Mr. Carsney. Presiden selamat namun si Frank terkena tembakan. Pada akhir cerita terjadilah duel di dalam lift yang sedang naik ke atas. Kali ini si Leary atau Mr. Carsney terpojok dengan hanya mengandalkan tangan menahan beban tubuhnya. Dengan jantan, si Frank mengulurkan tangan sambil berucap seperti si Leary menyelamatkan nyawanya. “Berikan tanganmu, kalau tidak kamu akan mati.”

******

Seekor lalat memang mati, tapi banyak yang dikorbankan sia-sia, segelas jus, semangkuk sayur asem dan (mungkin) sepiring nasi yang menyiprat wajah. Seragam loreng dan sepatu lars berusaha mempertahankan “lahannya”, namun 4 nyawa rakyat melayang tanpa arti. Padahal, menurut Suka Hardjana (2007), tentara Indonesia dilahirkan oleh rakyat, bukan oleh raja, presiden atau kepala negara macam apapun, maka dulunya bernama asli Tentara Keamanan Rakyat (TKR). TKR bukan hanya buah hati, tetapi anak kandung rakyat Indonesia, maka sesuai namanya --- Tentara Keamanan Rakyat --- tentara dan rakyat itu satu, sehati dan sejiwa. Adakah yang salah pada diri manusia seperti kita ini. Naluri kekejaman tumbuh dengan subur menghiasi kehidupan kita. Tetapi kenapa sisi baik tidak menonjol? Sebenarnya kita bisa membuang jauh-jauh sifat-sifat dendam, kejam dan lain-lain, tentu dengan pengajaran yang benar dan pelatihan yang terus-menerus serta konsisten. Si Frank bisa saja menembak penjahat itu dengan pistolnya, hebatnya dia tidak melakukan dengan kekejaman yang membara. Dan, sebenarnya Tuhan sudah membunuh saya dengan memberi rasa tidak selera sama sekali kepada makanan lezat yang tersajikan, hanya karena saya telat menjalankan ibadah sholat. Bagaimana seandainya tidak ketemu dengan lesehan pak Umar. Dan,…… sebenarnya Tuhan membunuh saya dengan cinta dan kasih-sayang.

Luthfie.-

05/06/2007