06 September 2009

Nikmatnya Jadi Orang Miskin

Harta, tahta dan wanita. Tiga kata ini menjadi simbol duniawi bagi orang sukses dan sekaligus sebagai momok yang bisa menjerumuskan ke jurang yang paling bawah. Dengan harta yang berlimpah, (mungkin) si Fulan bisa memiliki “dunia”. Harta identik dengan kekayaan, sehingga apa saja yang jadi keinginan si Fulan, dia bisa mendapatkannya. Harta identik pula dengan uang, sehingga bila si Fulan sudah kêmêcér (menggebu-gebu) rasa ingin memiliki sesuatu, dia tidak perlu kasak-kusuk cari hutangan, selama masih ada toko yang menjualnya. Apalagi bila sudah dibutakan matanya, sesuatu yang dipakai orang lain, atau sudah dimiliki oleh orang lain, dengan cara apapun, akan menjadi gampang untuk berganti pemilik. Pendek kata, dengan uang, si Fulan seakan-akan seperti raja. Istilah kerennya, si Fulan tinggal tunjuk, barang atau benda apapun bisa berpindah tangan. Dari sisi ini, uang seakan-akan Tuhan yang bisa mengabulkan setiap permintaan. Tahta identik dengan kedudukan, status sosial, kepangkatan atau jabatan. Yang demikian ini sebenarnya adalah sebuah amanat. Maka apabila amanat ini disalah-gunakan si Fulan, maka dia sebenarnya menyimpan bom waktu. Tahta juga identik dengan kekuasaan. Seorang Kepala Daerah, mulai dari Lurah, Bupati atau Walikota, Gubernur dan Presiden sekalipun, punya kekuasaan yang bisa mengubah, meletakkan, menetapkan dan menindak di dalam pagar wewenang yang diamanatkan kepadanya. Persoalannya akan berbeda bila dengan kekuasaannya, si Fulan bisa melakukan apa saja dengan menerjang batas-batas wewenang, termasuk yang sedang ramai diberantas oleh KPK, adalah korupsi. Adagium klasik Lord Acton: Power tends to corrupt and absolute power tends to corrupt absolutely. Juga menurut Masdar Hilmy (2007) bahwa dalam pandangan mazhab pemikiran ini, manusia secara biologis cenderung hedonis dan egois, lebih mementingkan diri, serta bebas dari rasa malu saat pelanggaran moralnya tidak diketahui public. Sejalan dengan ini, altruisme adalah watak yang cenderung dijauhi. Anekdot terkenal bicara lain. Sangat enak menjadi orang yang pas-pasan. Ingin punya Levi’s 501, pas sekali ada uang. Ingin punya sepatu Clark model terkini, pas beneran ada uang. Ingin punya Rolex bertitahkan intan permata, pas kebetulan ada uang. Ingin pakaian mewah, tinggal masuk Mark & Spancer, pas selalu ada uang. Ingin mobil Livina, XTrail, Teana, rumah bergaya mediterania yang river side atau lake side, pas simpanan di Bank of Swiss bisa dicairkan.

******
Senin malam selepas sholat ‘Isya’ di sebuah masjid di Serdang rutin menggelar pengajian tafsir al-Qur’an. Kalau tidak ada halangan yang mendesak dan benar-benar urgent, sayang sekali saya melewatkannya. Ada rasa yang hilang ketika secara mendadak karena suatu keperluan harus meninggalkannya. Padahal durasi pengajian ini tidak lebih dari satu jam. Satu jam, bagi saya adalah waktu yang sangat berharga, karena dengan satu jam, banyak ilmu baru yang saya tabung di CPU saya. Satu kata di dalam al-Qur’an bisa bermakna seribu pengetahuan. Makanya, dalam setiap pertemuan, tidak banyak ayat yang dibahas. Kadang kala minggu ini seharusnya membahas ayat selanjutnya, hanya karena pertanyaan seorang jama’ah, kembali mengurai bahasan minggu lalu, sehingga berbulan-bulan, tidak lebih dari sepuluh ayat yang dibahas. Namun, sudah sekian lama, menimba ilmu tafsir ini, saya merasa masih saja kebodohan menyelimuti diri saya. Sebab pengajar hanyalah sebagai fasilitator dan pendamping murid (baca pengikut pengajian), Yongky Karman (2007). Selanjutnya, Karman menjelaskan, proses pembelajaran dilakukan dalam suasana berbagi antara guru (pengajar, pen) dan murid. Maka, mengajar bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi kegiatan berbagi pengetahuan sekaligus ketidak-tahuan. Dan, ilmu pengetahuan harus diperlakukan sebagai barang hidup yang berkembang dan harus selalu dipupuk dan dipelihara. Adalah seorang ustadz (dan juga guru diniyyah) yang mumpuni dari Turki (turunan kitê) asli Cilegon yang dengan sabar memberikan materi tafsir. 14 tahun yang lalu ketika saya pertama kali bertemu, saya sudah yakin kalau sang ustadz punya kedalaman ilmu agama, terutama ilmu tafsir. Beliau bukan dari keturunan seorang kyai, namun beberapa kerabatnya menjadi kyai atau paling tidak ahli dan pejabat di Depag. Sang ustadz ini adalah orang yang sangat-sangat tradisional. Jangan bicara soal kartu ATM, kartu kreditpun bentuk dan rupanya belum pernah beliau sentuh. Tetapi bab mu’amalah yang menerangkan tentang kartu ATM dan kartu kredit sangatlah dikuasai. Oleh karenanya sampai saat ini beliau tidak pernah melakukan transaksi perbankan, sehingga menyimpan uangpun, dari pengakuannya, dilakukan di bawah almari pakaian dengan hanya ditutupi kertas manila. Bisa dibayangkan, barangkali juga tidak banyak kekayaan yang disimpannya. “Tak pernah saya menyimpan beras lebih dari 5 kg, urusan besok makan apa, ya saya rundingkan besoknya dengan istri saya ,“ kata beliau disuatu kesempatan. Padahal beras atau padi merupakan satu-satunya produk terpenting bagi petani atau bumi putera, tesis Bambang Sulistyo (1995). Lebih lanjut dikatakan, keberadaan beras menempati posisi yang strategis bagi perkembangan ekonomi. Tapi, sang ustadz bukan tidak tahu akan arti pentingnya beras, hanya faktor ekonomilah yang menyelimutinya, sehingga menumpuk beras 5 kg sudah lebih dari cukup. Ingin rasanya beliau meniru Nabi Ibrahim. Sang Rasul selalu membeli makanan sejumlah tetangga kanan-kiri plus satu dan membagikannya sampai habis. Satu untuk keluarga, sisanya untuk para tetangga. Ekspektasinya tidak muluk-muluk, bisa makan dan tidur nyenyak, sudah cukup. Kenyataannya, makan tidak teratur dan sering terlambat, apalagi tidur tidak pernah lebih dari empat jam, akibatnya, ketika memberi wejangan (baca pengajian), beliau tidak pernah sehat secara utuh. Baru-baru ini saya berkesempatan silatur rahim ke kediaman beliau, saya terperanjat ketika memasukinya. Seluas mata saya menyapu, ruang tamu itu dipenuhi oleh berbagai buku, sebuah komputer lama sebagai alat utama kerja dan mesin scan. Ada buku yang berbahasa Arab, terjemahan dan kitab kuning tak terhitung. Pantesan pinter menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, lha wong buku-buku tafsirnya dari orang-orang termasyhur termasuk
Quraisy Shihab terjajar sempurna. Kentara bukubuku itu sering dibuka, karena terlihat lusuh di pinggir pojoknya. Kadang diberi tanda stabillo atau post it dan tak jarang coretan-coretan kecil menghias di sela-sela halaman yang kosong. Hampir semua bukunya tidak bersampul dengan baik. “Saya punya toko buku langganan, walaupun saya sedang tidak punya uang, saya bisa mencicil setiap buku baru yang dikirim atas pesanan saya”, ujar beliau. Dalam hati kira-kira buku sabanyak ini kalau di-kurs-kan bisa seharga Avanza (sékên). Menyimak dengan seksama rumah sang ustadz ini, tambah heran dan hampir tidak percaya. Di jaman modern serba digital ini, rumah sederhana ini tidak berplafon sehingga genteng di atas kepala terlihat dengan jelas berikut celah-celahnya akibat matahari menerobos masuk. Sawang menempel dimana-mana menandakan tak pernah ada sentuhan maintenance. Lantai! Subhanalloh! Masih berupa tanah! Perabotan kursi dan meja tamu masih tersisa mungkin buatan tahun 60-an sehingga untuk menopang daun meja, salah satu kakinya harus diisi dengan lipatan kertas. “Alhamdulillah, rumahkusyorgaku ini tak pernah bocor dan kebanjiran” ujarnya sambil tersenyum. Obrolan santai dengan sang ustadz di masjid, di rumah-rumah jama’ahnya atau di tempat-tempat lain, tak ada kata mengeluh ketika beliau masuk ke dalamnya. Lantas, “bagaimana ustadz bisa pergi haji (tahun 2006, pen)?” pertanyaan nakal saya meluncur tak terkendali. Bukannya sang ustadz yang menjawab, seorang jama’ah yang dekat dengan beliau menjawab, “pak Ustadz ‘diminta’ Depag memandu jama’ah yang pergi haji ke Mekah”. Bagi saya ini adalah kekuasaan Alloh semata. Sudah selayaknya beliau menyandang predikat haji, haji yang sesungguhnya. Kini, kesahajaannya makin bersinar dengan selendang putih di pundak. Suatu ketika sang ustadz mengantar anak gadisnya berangkat mondok setelah lama sakit di rumah. Anak gadis bagi beliau adalah harta karun yang harus dijaga. Kehormatan anak gadis, akan berdampak langsung terhadap eksistensi sang ustadz. Terutama dalam hal pendidikan anak, sang ustadz tak mau berspekulasi. Bahwa pendidikan anak (berbasis agama) adalah proyek tak kunjung usai. Pencinta filosofi anak Rozana Marthalia Daecyanti (Tempo, 2007): dunia pendidikan anakanak adalah investasi yang mahal. Masa depan sebuah bangsa ada di tangan anak-anak yang berpendidikan. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengembangan sumberdaya manusia (Priyono Tjiptoherijanto, 1989). Dalam hal ini pendidikan pada dasarnya dapat dipandang sebagai investasi yang imbalannya baru dapat dinikmati beberapa tahun kemudian dalam bentuk pertambahan kemampuan dan ketrampilan. “Kalau bukan karena pertolongan Alloh,” sang ustadz memulai bercerita di sela- sela memberi materil tafsirnya, “kemungkinan besar saya tidak bisa sampai sini (masjid, pen/red). Coba bayangkan, di kantong saya tak terselip uang selembarpun. Mengantar anak ke pondok (ke sekolah, pen/red) adalah sebuah kewajiban yang tak boleh ditinggalkan. Pendidikannya adalah masa depannya. Di saat yang susah ini saya memberanikan diri dengan vespa tua mengantar anak. Saya masih punya Alloh sebagai penolong. Saya adukan sepenuhnya kepadaNya, agar bensin yang ada di tangki vespa (yang tinggal sesetrip) bisa cukup untuk pulang pergi dan sampai di masjid ini (tempat pengajian berlangsung, pen/red). Alhamdulillah, saya sampai sini dengan selamat dan yang paling penting, tidak terlambat. Ada kesempatan mulut ini selalu bertasbih, berdzikir, bertahmid dan bertakbir hampir tiada henti. Belum tentu pekerjaan mulut ini saya lakukan, bila uang di kantong ‘masih tebal’ dan bensin di tanki vespa masih penuh. Maka, menjadi orang melarat itu nikmat sekali. Saya percaya itu”, beliau mengtakan dengn semangat.

******
Kepasrahan sang ustadz ini membuat adrenalin bekerja dengan baik. Darah mengalir ke otak dan organ-organ tubuh yang lain menjadi proporsional. Metabolisme tubuh terpenuhi dengan sempurna. Bisa disimpulkan, ternyata kesederhanaan juga ada nikmatnya.


Luthfie.-
21/06/2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar