Beberapa waktu yang lalu penulis berjumpa dengan teman lama ketika masa SMA. Lama sekali penulis berpisah, lebih 15 tahun. Seperti diatur oleh Yang Maha Kuasa, perjumpaan ini terjadi di depan Masjidil Haram, Mekkah, persis di depan hotel mewah Daarut Tauhid. Konon kabarnya hotel ini milik orang nomer 2 di negeri kaya minyak, keluarga Bin Laden, Keluarga ini juga sekarang sedang membangun hotel super mewah disebelahnya, yang akan rampung di tahun 2008. Di bawah hotel mewah ini ada supermarket Bin Dawood dan pertokoan yang menjual barang-barang mewah untuk ukuran rata-rata jama’ah
Saking asyiknya berbincang di pelataran hotel itu, sambil sarapan roti-susu, hingga bukan saja dien Allah dan paham syi’ah – suni yang jadi topiknya, akhirnya ngalor ngidul masalah negara, korupsi di DEPAG, besarnya BPIH sampai ke masalah Marxisme. Pada akhirnya sampailah pada sub topik “kanan-kiri”. Awalnya dikemukakan, bahwa di Saudi ini, sebuah kendaraan yang akan belok kanan tidak perlu menyalakan lampu sign kuning byar-pet byar pet, karena memang jalur legalnya berada di sebelah kanan. Tampak asing sekali, karena selama ini main set kita selalu di sebelah kiri. Lha kalau di negara kita yang semboyannya loh jinawi tata tentrem kerta raharja, justru lampu sign kiri yang sering dilupakan pengemudi. Maka jika diambil statistik, ternyata tidak banyak yang sudah “sadar lalu-lintas” atau ketika ada petugas saja pengemudi menyalakan lampu sign kiri kalau ingin belok kiri.
Tangan kiri agaknya menjadi anak tiri, atau sengaja ditirikan terhadap saudara kandungnya tangan kanan. Perlakuan ini menjadikan tangan kiri bersedih terus menerus. Untuk mengambil dan membersihkan kotoran najis ataupun thaharah, tangan kiri diperintahkan dengan sewenang-wenang. Yang demikian ini, tangan kiri tidak merasa mengeluh. Tangan kiri melakukannya dengan penuh tanggung-jawab. Tidaklah terbesit sedikitpun uneg-uneg untuk iri, dengki, ngedumel kepada tangan kanan. Hal yang paling penting, tangan kiri mampu menjadikan dirinya sendiri untuk “berfikir” positif, Sebaliknya, tangan kanan selalu diberikan tugas yang enak-enak, yang bagus-bagus. Apakah karena dalam sabdanya, untuk selalu “meng-kanan-kan” untuk hal-hal yang baik. Demikian pula anjuran orang bijak, gunakanlah tangan kanan untuk mengantarkan makanan/minuman ke dalam mulut. Budaya ke-Indonesia-an juga menuntut bahwa dengan menggunakan tangan kanan nilai-nilai kesopanan tersanjung tinggi. Apresiasi kepada tangan kiripun, tidak mengubah bahwa nantinya apa yang akan ditugaskan kepadanya menjadi ringan. Toh, jumlah “pemberi” apresiasi ini tidak banyak. Contoh apresiasi adalah menempatkan jam tangan, cicin, gelang di tangan kiri. Bahkan diawal-awal penulis masuk kota Cilegon ini, ada seorang ulama mengemukakan, pemakaian jam tangan di tangan kanan adalah hal yang haram. Wa Allahu ‘a’lam.
Hubungan Indonesia dan China (dulu disebur RRT = Republik Rakyat Tiongkok) membeku setelah peristiwa G30S/PKI meletus di tahun 1965. Poros Jakarta-Peking seakan-akan terputus total tak bisa disambungkan. Apa penyebabnya? Karena China adalah salah satu (anggota?) Kelompok atau Blok Negara Kiri. Negara kiri dalam pengertian ini adalah negara komunis. Masih segar dalam ingatan penulis, ketika penulis duduk di bangku SD, belum tahu arti harfiah apa itu kiri (baca komunis), suatu kali seorang guru berkata, kalau di dunia ini tidak ada komunis, maka penjajahan di negara-negara dunia ketiga masih akan terus berlanjut. Paham yang didengungkan adalah sama rasa sama rata. Exploitasi manusia oleh manusia di dunia ini harus dihapuskan. Artinya, Blok Kiri sangat berjasa menuntaskan kemerdekaan. Entah, terbentuknya Poros Jakarta-Peking-(bahkan Moskow), karena ada jasanya terhadap kemerdekaan kita, penulis tidak tahu. Blok Kiri ini berdiri kokoh, tak tergoyahkan. Maka ketika Blok Kiri menggunakan uranium untuk kemaslahatan ummat, tak ada yang berani mengusik. Blok kanan (baca Blok Barat) tak berani menggempur baik dengan kata-kata apalagi dengan menggunakan senjata. Bahwa Chernobil yang diarsiteki Rusia (dulu Uni Sovyet) sampai meledakpun, “Paman Sam” tak berani menegur. Rasanya kalau ingin aman, (mungkin) sebaiknya kita usulkan Iran masuk saja ke Blok Kiri.
Kazuo Shimogaki dalam disertasinya yang mengupas “pemikiran kiri” Hassan Hanafi, seorang doktor dari Sorbonne University (1966), bahwa kiri Marxis bertujuan memapankan suatu kumpulan (partai) yang berjuang melawan kolonialisme.dan telah menciptakan dampak-dampak tertentu, walaupun belum membuka peluang intelektual secara utuh. Lebih lanjut dikatakan, tugas kiri adalah mengatasi kecenderungan-kecenderungan itu dan merealisasikan tujuan-tujuan, termasuk revolusi nasional yang berbasis pada prinsip revolusi sosialisme melalui khazanah intelektual ummat.
Alkisah Kelompok Kiri di negara kita. Cap yang disandangnya adalah komunis tidak mengenal adanya Tuhan. Maka kalau the founding fathers menempatkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” di level yang paling atas, ini artinya segala gerak-gerik kita tak lepas dari selalu mengingat Tuhan, karena dengan mengingat Tuhan, ada kecenderungan untuk tentram. Lambat laun pada akhirnya paham kiri tak akan mendapat tempat di negeri kita tercinta. Satu cerita ketika penulis masih tinggal di Surabaya. Ada 2 terminal kendaraan yang tergolong besar, salah satunya adalah Terminal Jembatan Merah. Kehidupan di terminal ini sangatlah keras, dalam artian, untuk mendapatkan sesuap nasi, berbagai cara bisa ditempuh meski vevire veri coloco, berani menyerempet bahaya, termasuk menjadi pencopet sekalipun. Secepat kilat dompet seorang ibu muda telah berpindah tangan ke seseorang yang tak dikenalnya. Secara spontan ibu muda itu berteriak, “ … copet, copet, copet”. Teriakannya terhenti seketika tatkala si pencopet langsung mengacungkan sebilah pisau. Entah terinisiasi oleh siapa, seorang tukang becak berteriak juga. Namun kali ini teriakannya bernada sumbang. “PKI, PKI, PKI.” Mendadak sontak si pencopet berhenti berlari untuk kemudian bersujud di depan tukang becak seraya berkata dengan lirih, “… pak saya asli bukan PKI, saya memang pencopetnya, tolong bawa saya ke Hoe Biro”, dengan logat Maduranya yang sangat totok. Yang dimaksud Hoe Biro adalah markas POLWILTABES Surabaya, yang memang tidak jauh dari terminal. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa copet di terminal itu? Ternyata “jabatan” sebagai pencopet masih lebih terhormat daripada dituduh seorang (aktivis) PKI, komunis, atau kiri.
Ternyata fenomena kiri memang aneh. Wa Allhu ‘a’lam.
Luthfie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar