30 Agustus 2009

Membunuh Dengan Cinta dan Kasih Sayang


Dua jarum jam saya masih menunjuk angka 14:20 ketika saya (bersama keluarga) memutuskan istirahat di daerah Tapos Bogor di sebuah rumah makan lesehan pak Umar. Tentu saja istirahat ini adalah melepas penat sembari program makan siang. Program sholat? Ya, sembari menunggu hidangan disajikan, kami semua melaksanakan ibadah sholat Dhuhur (dan ‘Ashar sekaligus). Kebanyakan dari kita, melakukan sholat, hanya untuk menggugurkan sebuah kewajiban yang dibebankan kepada kita, sehingga time setting-nya sengaja ataupun tidak sengaja, sedapat mungkin dibuat pendek. Selesai sholat, makanan sudah terhidangkan, tapi ketidak-beruntungan menimpa saya, selera makan saya hilang, tidak menggebu-gebu seperti pada saat ketika memasuki pelataran parkir dan mendadak perut jadi kembung. Kenyangkah saya? Ternyata tidak juga, bahkan keinginan minumpun tidak ada.

Belum berakhir cerita ini, begitu pesanan makanan sudah terhidangkan di ambén (sejenis dipan yang terbuat dari bambu), datang pulalah berbondong-bondong melihat dan mencium aroma makanan lezat makhluk Alloh yang lain yang bernama lalat. Pertama hanya satu dua ekor lalat yang datang, beberapa menit kemudian bertambah banyak, entah belasan atau bahkan sudah puluhan jumlahnya. Saya tidak merasa dan tidak pernah mengundang lalat-lalat itu untuk ikut serta mencicipi makanan yang saya pesan. Sebelum makanan datang disajikan, tak ada satupun lalat yang berseliweran di depan saya dan keluarga. Sangat aneh, mereka seakan-akan mengetahui dimana ada makanan lezat atau yang sangat tidak lezat sekalipun. Obat nyamuk dan lilin dinyalakan untuk mengusirnya. Dasar lalat, akal dan pikirannya terbatas, obat nyamuk dan lilin bukan halangan untuk tetap menyerbu makanan. Berbagai maneuver dikerahkan dan menghunjam dengan kecepatan supersonic hanya untuk mendapatkan setitik makanan. Tujuan utamanya sama dengan saya, mengisi perutnya untuk metabolisme tubuh tetap sehat. Sesama makhluk Alloh saling berebut cinta dan kasihNya.

*****

Lalat, nyamuk, kecoa, kalajengking, kelabang, orong-orong, sogo’ tele’ (bentuknya seperti ular anakan sebesar sapu lidi, tapi gerakannya sangat lincah). Naluri kita tergerak untuk membunuh mereka karena akal pikiran kita berproses bahwa binatang ini dan segerombolan sejenisnya akan mengganggu kenyamanan kita. Begitu makanan datang, lalatpun juga datang, karena yang terbayang di otak kita adalah lalat juga hinggap di tempat-tempat cemar, makanan-makanan busuk, (ma’af) tai anjing, manusia dan lain sebagainya, sehingga secara spontan naluri kita sedapat mungkin ingin membunuhnya.

Ketika kita santai di beranda rumah, di dalam rumah atau di ruang tamu sekalipun, pada musim apa saja, bahkan di siang bolong ketika kita berhenti sejenak di tengah-tengah hutan yang lembab, nyamuk mengganggu menggigit kita seenaknya. Kebutuhannya sama, keberlangsungan hidup. Dia tak pernah berfikir bahwa gigitannya men-jeram gatal beberapa waktu lamanya. Apalagi yang namanya nyamuk “marinir”, bercorak warna hitam-putih seperti baju loreng marinir. Lebih celakanya lagi, dia mengejar kemanapun kita beranjak pergi. Diapun tak pernah berfikir, akibat dari gigitannya, timbul kemarahan manusia terhadapnya, sehingga lahirlah kejengkelan dan nafsu yang membara untuk membunuhnya. Dia juga tak pernah berfikir, risiko yang paling berat adalah fatality. Bagi dia mati adalah tujuan akhir bak kamikaze, mati secara terhormat.

Lebih tidak beruntung lagi, dengan santainya sambil mengendus-endus apa saja yang dilihat kemudian didekati dan ketika dekat dengan manusia, kecoa tak menyadari nyawanya terancam melayang. “Plak!!!”, suara sandal terayun oleh tenaga besar seorang manusia. Bahkan, tak terbayang dalam benaknya, manusia bengis itu dengan sandal di kaki masih menginjak sekaligus melumatkannya hingga hancur cur. Duh, malang benar nasibmu, kecoa. Begitupun dengan nasib kalajengking, kelabang orong-orong dan teman-temannya. Hidupnya untuk setor nyawa dengan sia-sia. Kalau boleh mengadu kepada Yang Maha Pencipta, “janganlah aku dilahirkan ke dunia, jikalau pada akhirnya aku harus mati sia-sia di tangan algojo bernama manusia.” Bagi mereka melihat manusia, seakan-akan menghadapi “malaikat pencabut nyawa.” Pertanyaannya, apakah kita sebagai manusia sudah mendapat sertifikat pencabut nyawa untuk binatang-binatang itu? Kalau jawabannya tidak, alangkah kejamnya kita sebagai manusia.

******

Head lines berita di beberapa media cetak dan ulasan-ulasan di media elektronik, menampilkan beberapa prajurit tangguh namun lemah-lembut di negeri ini mendadak-sontak menjadi beringas, membabi-buta, menghajar dan memuntahkan peluru beneran kearah penduduk tak bersenjata. Seorang ibu hamil, di Pasuruan, tergeletak setelah kepalanya didor oleh sang algojo. Ibu yang lain lari menggendong bocah tertembus peluruh dan peluru itupun begitu ganasnya menembus pula dada sang bocah, ibunya menggelepar meradang kesakitan dan akhirnya nyawanya tak tertolong. Beruntung sang bocah terselamatkan, dan … kiranya meninggalkan trauma yang mendalam. Seragam loreng dan sepatu lars juga menghajar yang lainnya, hingga 2 (dua) nyawa melayang lagi. Kalau peluru beneran itu mampu menembus dinding bata setebal 20-an senti, tak ada kata sulit untuk menembus dada manusia. Drama pelor, cermin konspirasi politik dan ekonomi yang kuat dengan menindas kemanusiaan (Johan Silas, 2007). Lebih lanjut dikatakan, semua orang dibekali otak, namun tidak semua berpikiran waras, manusiawi dan alami. Cara berpikir waras tidak tergantung restu atau persetujuan atasan, tetapi mampu mengandalkan pengetahuan, pengalaman dan standard moral yang tinggi.

Lalat-lalat itu sudah semakin menjengkelkan. Dengan obat nyamuk tak mempan. Lilin dibakar, tak mengcover seluruh hidangan yang ada. Naluri sebagai “malaikat pencabut nyawa” muncul secara tiba-tiba. Marah, dendam kesumat berkecamuk menjadi satu. Kertas koran dipilin agak besar, dipegang kuat-kuat, tebas sana tebas sini. “Pyang!” Lalat tak kena, dia terbang dengan lincahnya mempermainkan anak manusia yang berusaha membunuhnya, 1 (satu) gelas jus jeruk terguling tanpa bisa diselamatkan. Rupiah melayang sia-sia! Tentu lalat-lalat itu juga menahan perutnya dengan lapar yang bukan main. Begitu mendarat di bibir mangkuk sayur asem, “pek!”, tapi lalat itu lebih cepat seper sekian detik take off, sayur asem teraduk oleh koran, akhirnya nêg, nggak tega memakannya. Rupiah melayang sia-sia! Melihat temannya diserbu dibombardir habis-habisan, lalat-lalat yang lain spontanitas solider, menyerbu makanan yang lain. Hinggap di piring berisi nasi yang sedang dinikmati oleh salah satu keluarga. “Pek!” Gerakan lincah lalat mampu membuat kecewa sang algojo. Nasi beserta accesoriesnya muncrat ke wajah pemilik piring-makanan itu. Beruntung pemilik makanan itu masih mau melanjutkan makannya, namun tak sedikit yang tumpah berantakan. Ada nasi, ada sayuran, ada sedikit sambal trasi tercecer di ambén. Lalat yang lainnya dengan santai mendarat pelan di atas nasi tumpahan di ambén. Geram bercampur marah, sang algojo tak menyia-nyiakan kesempatan ini. “Plak!” Sakaratul maut sejenak, mungkin bertasbih, dan tak lama lagi dia menemui Tuhan Sang Khaliqnya.

******

In The Line Of Fire. Film lama diputar ulang di “Bioskop Tran-TV” yang menceritakan tentang 2 (dua) manusia yang berdiri pada 2 (dua) sisi yang berbeda, walaupun satu sama lain sudah saling kenal. Tujuan akhirnya adalah sama, seorang presiden. Sisi “putih” si Frank (Clint Eastwood) berpembawaan tenang, penuh dengan pertimbangan matang dan mampu mengendalikan emosinya. Mungkin karena memang sudah tua dan tentu saja sudah banyak mengecap “asinnya garam dan manisnya gula” pada profesinya sebagai penyidik FBI, sehingga walaupun dia jadi bawahan seorang yang masih muda, tak terbesit dia membusungkan dada karena pengalamannya. Tidak sempurna banget, kadang juga analisa perhitungannya salah, namun demikian, dia mengevaluasi kesalahan dengan cermat, tanpa mengeluhkannya. Sudah barang tentu, atasan dan rekan kerjanya mencemooh habis-habisan, ketika dia melakukan kesalahan. Sebegitu kejamnya, dia tak melakukan pembalasan, tetap tenang walaupun dihujani kemarahan dari atasannya. Karena kematangannya inilah, “tabungan” bagaimana mengendalikan emosinya semakin menumpuk. Sebagai anggota Secret Service, dia wajib menyelamatkan presiden, kapan dan dimanapun berada.

Dari sisi “hitam” si Leary berwatak sebaliknya, dingin, tak banyak cakap, bahkan setiap pertanyaan yang mengganggu “pikirannya”, dijawabnya dengan dentingan pistol hasil ciptaannya sendiri yang super canggih dan sangat ringan karena bukan logam. Entah apa yang menyelimuti otaknya, si Leary begitu menggebu-gebu ingin menghabisi nyawa sang presiden. Layaknya seorang penjahat ulung, trik mengganti identitas, baik nama maupun fisik, dilakukan dengan sangat hati-hati. Singkat cerita, ketika pada kesempatan pertama mereka bertemu, terjadilah adegan kejar-kejaran di atas atap gedung, lompat sana lompat sini. Sampai pada suatu titik, lompatan si Frank tak sampai, sehingga hanya tangannya saja yang menyentuh bibir gedung. Dalam keadaan super payah, dengan jantan, si Leary mengulurkan tangannya untuk membantu si Frank.

Sampailah pada detik-detik film yang sangat menegangkan dimana sang presiden berpidato pada jamuan makan untuk kelas elite VVIP. Setiap undangan yang datang, harus melewati security pass, dengan harapan tak ada satupun tamu undangan yang lolos dengan membawa senpi, kecuali si Leary yang membawa pistol khusus bukan logam. Pistol dirangkai di bawah meja makan, tanpa menimbulkan kecurigaan kanan-kiri, siap dibidikkan ke arah sang presiden. Malang, datanglah si Frank sang pahlawan --- padahal dia “dibuang” atasannya di tempat nun jauh disana --- dengan alasan keamanan, memeriksa dan menganalisa daftar tamu undangan satu per satu. Tersebutlah nama Mr. Carsney di meja nomer 4. Dengan cekatan si Frank melompat menghalangi dan menutup ruang tembak Mr. Carsney. Presiden selamat namun si Frank terkena tembakan. Pada akhir cerita terjadilah duel di dalam lift yang sedang naik ke atas. Kali ini si Leary atau Mr. Carsney terpojok dengan hanya mengandalkan tangan menahan beban tubuhnya. Dengan jantan, si Frank mengulurkan tangan sambil berucap seperti si Leary menyelamatkan nyawanya. “Berikan tanganmu, kalau tidak kamu akan mati.”

******

Seekor lalat memang mati, tapi banyak yang dikorbankan sia-sia, segelas jus, semangkuk sayur asem dan (mungkin) sepiring nasi yang menyiprat wajah. Seragam loreng dan sepatu lars berusaha mempertahankan “lahannya”, namun 4 nyawa rakyat melayang tanpa arti. Padahal, menurut Suka Hardjana (2007), tentara Indonesia dilahirkan oleh rakyat, bukan oleh raja, presiden atau kepala negara macam apapun, maka dulunya bernama asli Tentara Keamanan Rakyat (TKR). TKR bukan hanya buah hati, tetapi anak kandung rakyat Indonesia, maka sesuai namanya --- Tentara Keamanan Rakyat --- tentara dan rakyat itu satu, sehati dan sejiwa. Adakah yang salah pada diri manusia seperti kita ini. Naluri kekejaman tumbuh dengan subur menghiasi kehidupan kita. Tetapi kenapa sisi baik tidak menonjol? Sebenarnya kita bisa membuang jauh-jauh sifat-sifat dendam, kejam dan lain-lain, tentu dengan pengajaran yang benar dan pelatihan yang terus-menerus serta konsisten. Si Frank bisa saja menembak penjahat itu dengan pistolnya, hebatnya dia tidak melakukan dengan kekejaman yang membara. Dan, sebenarnya Tuhan sudah membunuh saya dengan memberi rasa tidak selera sama sekali kepada makanan lezat yang tersajikan, hanya karena saya telat menjalankan ibadah sholat. Bagaimana seandainya tidak ketemu dengan lesehan pak Umar. Dan,…… sebenarnya Tuhan membunuh saya dengan cinta dan kasih-sayang.

Luthfie.-

05/06/2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar