Betapa riangnya hati ini berangkat kerja. Saya merasakan pagi itu, keriangannya berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sejenak, setelah sholat shubuh, biasa saya buka-buka buku, atau menulis opini, melatih jari-jari untuk bercerita. Apalagi di bulan Oktober hingga perteng han Desember manjing shubuh pukul 04:09 – 04:13 WIB. Jadi, selesai menunaikan kewajiban, masih tersisa banyak kesempatan. Saya men-dawam-kan berangkat lebih awal dari jam kerja. Misalnya, tiba di tempat kerja satu jam sampai setengah jam lebih awal. Banyak cara untuk mewujudkan niatan ini, naik bis jemputan shift yang memang berangkat lebih awal atau ekstrimnya bawa sepeda motor yang bisa dipacu kencang mumpung jalanan masih sepi pembalap liar.
Nah, seperti biasa, 1 km dari rumah saya ke jalan raya, saya isi dengan olah raga jalan sehat sekitar 11 menit. Lumayan. Ukuran porsi olah raga sih kurang, tapi daripada tidak sama sekali, kata “lumayan” menjadi sangat cocok. Baru beberapa langkah, sahabat saya memanggil untuk diajak bareng dengan mobilnya. Ada keuntungan sekaligus kerugian. Untung, karena bisa menghemat tenaga untuk sampai ke jalan raya plus kenyamanan mobil dengan tingkat vibrasi rendah. Plus, tidak ikut tegang mengendalikan mobil. Plus, nyampe pabrik masih pagi. Rugi, karena jatah jalan kakinya tidak ada. Sedikitpun, tak tergambar sama sekali di dalam benak saya, bakal ada apa sahabat saya mengajak bareng ini.
Tiba-tiba sahabat saya ini melontarkan pertanyaan, “kalau sampeyan memberi pinjaman (baca, utangan) kepada orang yang dikenal, atau bahkan tidak sampeyan kenal sama sekali, bagaimana sikap sampeyan.”
Susah saya menjawabnya. Ada rasa ketakutan untuk berpendapat. Namun, untuk mengusir ketidak-pastian jawaban, saya balik bertanya, “lha sampeyan sendiri bagaimana, terutama mengharapkan pelunasan atau kembalian dari si terhutang.....”
“Iya dong, so pasti, nyarinya aja susah,” jawabnya mantab. Saya tak berani merusak tatanan jawaban yang mantab itu. Akhirnya, tak ada kalimat yang lahir dari mulut saya, akibat ketidak-mampuan saya. Lantas saya mencari rujukan, bahasa kerennya literatur tentang hutang atau utang.
******
Tak ada yang tak tahu definisi hutang (=utang). Yang jelas dari produk hutang lahirlah apa yang disebut dengan debitur dan kreditur. Hubungan antara debitur dan kreditur, menandai peraban manusia semakin maju. Berbagai lembaga keuangan bank maupun non bank berlomba-lomba menarik simpati manusia beradab. Ada yang tak tergiur sehingga cara berakal tradisional tetap merupakan primadona. Namun, tak sedikit yang kepincut hingga menelorkan kesengsaraan fisik sekaligus rohani. Bagi yang tahan banting, hutang adalah cara cepat saji membangun kebudayaan (berperikamanusiaan).
Dihampir semua situs di internet, dihidang-kan trik, tips, cara-cara memasak hutang agar bisa disantap dalam keadaan sengsara atau senang. Termasuk di dalamnya doa-doa menghindari hutang. Ada pula yang menyuguhkan pendekatan praktis menghindari pemborosan. Tak kalah menariknya lagi, kiat bijak berhutang. Yang saya herankan, kok tidak satupun ada yang menulis tentang, misalnya, bijaksana memberi hutangan. Atau, tiga cara, atau sepuuh atau seratus cara jitu memberi hutangan. Kalaupun ada, bisa dipastikan direply, dimaki-maki habis tanda ketidak-sinkronan Juga bisa dipastikan penulisnya tidak waras. Lha wong kita serba kekurangan, kok malah ada tips cara-cara memberi hutangan. Apa nggak terbalik dunia ini....?
Ada pula artikel,... senangnya,.....bebas dari hutang. Berarti, selama berhutang, manusia waras ini hidup berjaket kesengsaraan. Atau, manusia berbudaya luhur ini, hidup berselimutkan hutang. Wallahu ’a’lam. Disadari atau tidak, kita ini sebenar-nya serba kekurangan, ya kurang sopan terhadap sesama rekan kerja, ya kurang berilmu tapi berani mendebat, ya kurang moral hingga selalu mendzolimi istri, anak-anak, tetangga, kawan bekerja, atasan, dan lebih besar lagi perusahaan bilamana anda bekerja di perusahaan. Ada kalanya ketika diri saya dilanda kekurangan yang hebat, bertalu-talu, merengek-rengek, mendayu-dayu, saya mengadu kepada Allah. Kalau perlu dibela-bela-in tidak tidur malam bermalam-malam. Dalam konteks ini (seakan-akan) Allah saya persalahkan karena banyak menangguhkan permintaan saya. (Apa inikah dengan kenakalan saya, mudah mendefinisikan Allah berhutang kepada saya dengan banyak menang-guhkan permintaan paksa saya).
******
Panggilan adzan itu memenuhi di sudut-sudut lekukan telinga kanan-kiri saya. Tak ada ruang kosong tersisa. Bahkan udara yang menempelpun terdesak oleh molekul-molekul panggilan adzan itu. Seperti halnya sebuah botol kosong yang jatuh ke kolam, gelembung-gelembung udara menguap digantikan oleh sebuah senyawa liquid yang memenuhi. Molekul-molekul panggilan adzan itu bertambah lama bertambah mengeras, akibatnya serasa memekakkan kendang telinga. Maka, ketika saya tidak dengan segera menuju masjid, ruang hampa kemasjidan saya masih terisi oleh dunia kreatifitas kerja yang penuh dengan tipu-tipu.
Ngobrol dengan kawan, ngrokok berbatang-batang, thenguk-thenguk nyantai, di depan komputer sok sibuk atau ngorok dibangku panjang, berarti saya sengaja mencoba memperluas permukaan telinga saya, agar dengan demikian molekul-molekul panggilan adzan kewalahan memenuhi ruang hampa.
Sebenarnya secara tidak langsung, disadari atau tidak, Allah selalu mengajarkan kepada saya untuk selalu memberi hutangan atau pinjaman dengan banyak mengabulkan permohonan hutang saya. Mustinya saya (dan anda, mungkinkah?) ringan hati untuk selalu memberi hutangan tanpa harus mengharap pengembalian (mungkinkah?). Maka sebenarnya kalau saya harus berlambat-lambat menunaikan sholat, tak segera bayar zakat, terlambat atau cenderung membiarkan bekicot menyebrang jalan aspal rusak selebar 1.5 meter, sehingga bekicot itu tergilas oleh sepeda motor, ........maka sebenarnya Allah dengan ringannya memberi hutangan kepada saya untuk menunda proses berbutat baik. Ini juga berarti saya telah berhutang, berhutang dan berhutang banyak kepada Yang Maha Pemberi Hidup.
Bekicot itu punya hak yang sama, hak azazi yang paling dasar, yaitu hak untuk hidup layak. Pembiaran saya adalah perwujudan tumor kebi-adaban telah melekat pekat di jiwa dan otak saya. Hidup dan kehidupan bekicot itu berhenti di roda sepeda motor, karena saya terlambat bayar hutang kebaikan untuk menyingkirkan dari mara bahaya. Begitu mudahnya saya melakukan proses hutang itu.
Kita bisa bebas men-utilize oksigen untuk suplemen otak, sebenarnya ini berarti kita berhutang tak terhingga kepada Sang Maha Pemurah. Dia tidak pernah menuntut pembayaran kembali. Sekali lagi, Dia selalu ikhlas kepada piutangNya, kendati sampai akhir hayat tidak membayar hutang. Bisakah kita berlaku demikian. Maka, saya niat berkampanye, ayo kita ramai-rami memberi hutangan. Bagaimana pendapat anda?...
Luthfie.-
15/12/2008
Dari berbagai sumber.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar